BANDUNG, 10 JANUARI 2026 — Hening malam Jumat di lingkungan Politeknik Al Islam Bandung (PAIB) terasa berbeda. Lantunan doa, renungan, dan semangat perubahan diri menyatu dalam kegiatan Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) atau Spiritual Bootcamp, yang menjadi penutup rangkaian Pesantren Tafaqquh Fiddin, Jumat–Sabtu (9–10 Januari 2026).
Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan puncak dari perjalanan panjang pembinaan karakter Islami mahasiswa PAIB yang telah berlangsung sejak November 2025. Selama dua hari satu malam, para mahasiswa diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk aktivitas akademik, untuk kembali menata hati, memperkuat iman, dan menemukan makna jati diri sebagai insan akademis dan calon tenaga kesehatan.
Program Pesantren Tafaqquh Fiddin tahun ini diikuti oleh mahasiswa dari tiga angkatan sekaligus, yakni angkatan 2023, 2024, dan 2025. Peserta berasal dari lintas program studi, terdiri atas 10 mahasiswa Program Studi Administrasi Rumah Sakit, 54 mahasiswa Program Studi Radiologi, dan 47 mahasiswa Program Studi Terapi Wicara. Keberagaman latar belakang ini justru memperkaya dinamika pembelajaran dan kebersamaan selama kegiatan berlangsung.
Proses Panjang Menanamkan Nilai
Ketua Pelaksana Pesantren Tafaqquh Fiddin, Dhaffa Muhamad Dzikri Mulyadi, S.Pd, menjelaskan bahwa program ini dirancang secara berkelanjutan dan tidak instan. Rangkaian kegiatan diawali dengan Pembukaan dan Kuliah Umum (Kuliah ‘Am) pada 1 November 2025, sebagai fondasi awal pembinaan keislaman mahasiswa.
Selanjutnya, mahasiswa mengikuti Kelas Halaqah intensif yang dilaksanakan setiap hari Selasa, mulai 4 November 2025 hingga 6 Januari 2026. Dalam kelompok-kelompok kecil, para mahasiswa dibimbing langsung oleh para ustadz dan ustadzah untuk memperdalam pemahaman agama, membangun kedisiplinan ibadah, serta menumbuhkan adab dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
“Pesantren ini bukan hanya tentang menambah pengetahuan agama, tetapi bagaimana mahasiswa benar-benar mengalami proses pembentukan karakter,” ujar Dhaffa.
Malam Puncak yang Menggugah Jiwa
Sebagai kulminasi, Spiritual Bootcamp menjadi ruang refleksi yang mendalam. Tiga pemateri hadir membekali mahasiswa dengan wawasan keislaman yang relevan dengan tantangan zaman.
Materi pertama disampaikan oleh Nanang Sukarna, AMd.RMIK, yang mengangkat tema “Filter Your Life: Menjaga Adab & Anti-Hoax di Era Digital”. Ia menekankan pentingnya akhlak dan tanggung jawab moral mahasiswa dalam bermedia sosial, khususnya di tengah derasnya arus informasi digital.
Sesi berikutnya diisi oleh Dr. H. Ma’mur Hidayat, S.Ag., MM, melalui materi “Back to Basic: Reset Iman & Upgrade Kualitas Ibadah”. Peserta diajak untuk kembali memurnikan niat, memperbaiki kualitas ibadah, dan menjadikan iman sebagai pondasi utama dalam menjalani peran sebagai mahasiswa dan calon profesional kesehatan.
Puncak emosi dan motivasi terasa pada sesi ESQ yang dibawakan oleh Dedi Hermawan, S.Psi., MM dari lembaga training Trustco. Melalui tema “The Best Version of Me: Sinergi Hati, Akal, dan Iman”, mahasiswa diajak mengenali potensi diri, mengelola emosi, dan membangun visi hidup yang selaras antara intelektualitas dan spiritualitas.
Sinergi dan Dedikasi Bersama
Kesuksesan Pesantren Tafaqquh Fiddin dan Spiritual Bootcamp ini tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak. Panitia menyampaikan apresiasi kepada jajaran Direksi Politeknik Al Islam Bandung atas dukungan dan arahan yang konsisten dalam pembinaan kemahasiswaan.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Trustco sebagai mitra kegiatan, para pemateri Mabit, serta tim pengajar halaqah: Ustadz Supian Munawar, Ustadz Dadang Sunandar, S.Pd.I, Ummi Yani Heryaninsih, S.Pd, dan Ummi Nurjanah Yahya, yang dengan penuh kesabaran membimbing mahasiswa selama berbulan-bulan.
Tak kalah penting, apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras dari tahap perencanaan hingga penutupan kegiatan, yakni: Dhaffa Muhamad Dzikri Mulyadi, S.Pd; Fitri Andriyani, A.Md.ARS; Ria Herawati, A.Md.Kes; Nabil Falah Abdussalam, S.Pd; Pelani Febriani, A.Md.ARS; Windi Widyastuti, M.Pd; Budi Irawan, A.Md.TW., SKM; serta Saudara Sakha dan Saepul.
Dengan berakhirnya rangkaian Pesantren Tafaqquh Fiddin ini, Politeknik Al Islam Bandung berharap nilai-nilai keislaman yang ditanamkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, tetapi benar-benar terimplementasi dalam kehidupan akademik dan profesional mahasiswa. Menjadi tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga beradab, berakhlak, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam setiap pengabdian kepada masyarakat.

