DEPOK — Suasana akhir pekan di Main Atrium Mall Pesona Square, Depok, Jawa Barat, terasa penuh makna pada Sabtu, 4 April 2026 lalu. Di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan, sebuah panggung edukasi dan empati berhasil menarik perhatian masyarakat luas. Mengusung tema besar “Bangga Membersamai Autistik”, komunitas Peduli ASD sukses menggelar puncak acara Festival Peduli Autisme 2026 dalam rangka merayakan World Autism Awareness Day (Hari Kesadaran Autisme Sedunia).

Dipandu oleh Master of Ceremony (MC) Walrimpi, S.Pd., dan Bintang Fadhillah, S.Pd., acara yang terbuka untuk umum dan gratis ini mengajak masyarakat untuk mengikuti kampanye #BelajarAutismeSeharian. Festival ini menghadirkan rangkaian sesi komprehensif mulai dari realita medis, pendidikan dan komunikasi inklusif, hingga tinjauan sains terkait autisme.

Menggali Cerita dan Realita dari Kacamata Medis serta Advokasi

Rangkaian acara bergulir pada pukul 10.00 WIB dengan sesi Fireside Chat bertajuk “Ruang Cerita & Realita Autisme”. Sesi yang dipandu oleh host Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc. ini menghadirkan dua tokoh penting: dr. Arifianto, Sp.A, Subsp.Neuro(K) (Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak) dan Dr. Dante Rigmalia, M.Pd (Ketua Komisi Nasional Disabilitas RI).

Sesi pembuka ini berhasil membuka mata para pengunjung mal mengenai tantangan neurologis yang dihadapi individu autistik, sekaligus menyoroti pentingnya perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di Indonesia dari sudut pandang advokasi nasional.

Menjembatani Pendidikan dan Komunikasi yang Inklusif

Memasuki siang hari, panggung berganti format menjadi Talk Show interaktif dengan topik “Pendidikan Inklusif VS Komunikasi Inklusif”. Sesi ini dipandu secara apik oleh Tetty Ekasari, A.Md.TW., M.Pd., MCE, yang merupakan Dosen Terapi Wicara dari Politeknik Al Islam Bandung. Beliau memandu jalannya diskusi yang membedah bagaimana lingkungan sekolah dan pola komunikasi masyarakat harus beradaptasi untuk menerima individu autistik.

Kehadiran Wahid Suryono, S.Pi selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, memberikan sinyal positif mengenai dukungan pemerintah daerah terhadap perluasan sekolah inklusi. Ia bersanding dengan M. Taufiqurrahman, SS., MM, Kepala Sekolah Dasar Nasional Plus Tunas Global Depok, yang membagikan praktik nyata dan pengalaman di lapangan tentang bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang ramah bagi anak-anak spektrum autisme.

Autisme dalam Lensa Sains

Sebagai penutup kampanye #BelajarAutismeSeharian, pengunjung diajak menyelami autisme dari kacamata biologi molekuler. Mengusung tema “Autisme & Sains”, Science Talk ini kembali dipandu oleh Dr. Isti Anindya dengan menghadirkan pakar Dr. Riza Arief Putranto, DEA.

Sebagai seorang Molecular Biologist dan Science Communicator, Dr. Riza sukses meluruskan berbagai mitos yang sering beredar di masyarakat mengenai penyebab autisme, dengan menyajikannya melalui fakta-fakta ilmiah dan genetika yang mudah dicerna oleh masyarakat awam.

Kolaborasi Inklusif dan Hadirnya Politeknik Al Islam Bandung

Kesuksesan Festival Peduli Autisme 2026 ini merupakan hasil kolaborasi yang kuat. Hal ini terlihat dari dukungan penuh Politeknik Al Islam Bandung yang tidak hanya berperan sebagai media partner, tetapi juga turut membuka stand booth di area Main Atrium.

Kehadiran booth Politeknik Al Islam Bandung menjadi daya tarik tersendiri, memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkonsultasi langsung dan mengenal lebih dekat program studi Terapi Wicara yang sangat relevan dengan kebutuhan komunikasi individu spektrum autisme. Selain itu, booth ini juga memfasilitasi pengunjung yang ingin mengetahui informasi terkait Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun ajaran 2026/2027.

Acara ini juga didukung oleh Klinik Utama Anak Pintar Indonesia, Sekolah Tunas Global, Jannah Squad, serta disponsori oleh Pertamina Patra Niaga, Pesona Square, elzatta, Scarlett, Rumah Sakit YARSI, dan berbagai mitra resmi lainnya.

Melalui festival edukatif di ruang publik yang telah sukses diselenggarakan ini, Peduli ASD berharap stigma terhadap individu autistik dapat terus dikikis. “Bangga Membersamai Autistik” terbukti bukan sekadar slogan, melainkan sebuah aksi nyata untuk terus belajar dan menciptakan dunia yang lebih inklusif.