BANDUNG — Penggunaan teknologi radiologi dalam dunia medis, baik untuk keperluan diagnostik maupun intervensional, ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi sangat vital untuk penentuan diagnosis dan penanganan pasien, namun di sisi lain menyimpan risiko paparan radiasi yang butuh pengawasan ketat. Oleh karena itu, kehadiran Petugas Proteksi Radiasi (PPR) yang andal bukanlah sebuah pilihan, melainkan keharusan mutlak. Semangat menjaga standar keselamatan inilah yang mewarnai semaraknya penutupan Pelatihan PPR di Politeknik Al Islam Bandung baru-baru ini.

Sorak sorai kelegaan dan senyum kebanggaan terpancar jelas dari wajah-wajah para peserta saat acara penutupan berlangsung. Berlangsung secara intensif selama sepekan penuh, tepatnya pada 17 hingga 24 Juli 2026, Pelatihan Petugas Proteksi Radiasi (PPR) Bidang Radiologi Diagnostik dan Intervensional Batch 19 ini sukses digelar. Tercatat sebanyak 35 orang peserta mengikuti rangkaian diklat ini dengan antusiasme tinggi. Di bawah payung kolaborasi antara Gayuh Setia Utama Institute, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), dan Politeknik Al Islam Bandung, puluhan peserta tersebut digembleng dengan berbagai materi krusial mengenai standar Proteksi Radiasi Medik 2.

Tentu bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang petugas PPR tersertifikasi. Para peserta dituntut untuk memahami secara mendalam seluk-beluk regulasi, prosedur keselamatan kerja, hingga jaminan proteksi di sub-lingkup kegiatan pemanfaatan radiologi. Namun, komitmen belajar yang tinggi, diskusi panjang di ruang kelas, serta dedikasi para instruktur berpengalaman akhirnya membuahkan hasil yang teramat manis. Sebuah rekor gemilang ditorehkan pada akhir pelatihan ini: tingkat kelulusan peserta menyentuh angka sempurna, yakni 100%.

“Selamat & Sukses kepada seluruh peserta,” demikian bunyi pesan hangat pada spanduk yang mengiringi sesi foto bersama di akhir acara. Dalam balutan seragam almamater biru gelap, para peserta berpose menyilangkan tangan di dada—sebuah simbol ketangguhan dan kesiapan mereka mengemban tanggung jawab baru.

Angka kelulusan 100 persen ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan bukti nyata komitmen lembaga pendidikan dan para peserta dalam menegakkan keselamatan kerja. Kini, ke-35 pahlawan pelindung radiasi ini telah siap kembali ke instansi kesehatan masing-masing. Mereka pulang membawa bekal ilmu berharga, siap berdiri sebagai garda terdepan yang memastikan keselamatan pasien, pekerja medis, dan lingkungan dari risiko bahaya radiasi.